https://stevia.or.id/ Pajak Indonesia vs Negara Tetangga: Siapa Lebih Ramah? Kalau ngomongin pajak, kita gak bisa lepas dari dua hal: tarif sama sistem. Tarif tuh angka resminya, sistem tuh gimana cara ngejalaninnya. Dua-duanya bikin orang betah atau kabur dari suatu negara. Nah, mari kita bandingkan Indonesia dengan negara tetangga kayak Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Tarif Pajak Orang Pribadi
- Indonesia (2025):
Progresif 0% sampai 35%. PTKP (penghasilan bebas pajak) Rp54 juta per tahun. - Singapura:
Tarif progresif 0%–22%, dan bracketnya lebih luas. Plus banyak insentif. - Malaysia:
Tarif progresif 0%–30%. PTKP setara ±Rp55 juta. - Thailand:
0%–35%. PTKP ±Rp60 juta. - Vietnam:
5%–35%. PTKP lebih kecil, sekitar Rp20 juta.
Kalau diliat, Indo gak beda jauh dari tetangga, malah mirip banget sama Thailand. Singapura jelas paling rendah dan friendly buat high earner. Makanya banyak artis Indo (atau crazy rich) yang pindah domisili pajak ke sana.
Tarif Pajak Badan
- Indonesia: 22% (rencana turun 20%).
- Singapura: 17% flat, plus banyak tax rebate.
- Malaysia: 24%.
- Thailand: 20%.
- Vietnam: 20%.
Di sini keliatan banget kalau Indonesia masih lumayan tinggi dibanding kompetitor. Singapura jelas jadi magnet karena tarif badan cuma 17% ditambah kemudahan birokrasi.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN/VAT)
- Indonesia: 11% (naik ke 12%).
- Singapura: 9% (GST, baru naik).
- Malaysia: SST 6% (lebih ringan, tapi basisnya terbatas).
- Thailand: 7%.
- Vietnam: 10%.
Nah, di sini Indonesia agak “mahal” karena PPN lebih tinggi dibanding tetangga (kecuali Malaysia yang pakai sistem lain).
baca juga
- Pajak Perkawinan Mewah
- Pajak Streaming Platform
- Pajak Content Creator YouTube
- Pajak Influencer TikTok & Instagram 2025
- Pajak Event Olahraga Internasional
Ease of Doing Tax
Tarif penting, tapi yang bikin orang betah adalah kemudahan.
- Singapura: urus pajak super cepat, mostly online, jarang ada drama.
- Malaysia: lumayan gampang, tapi ada beberapa birokrasi manual.
- Thailand & Vietnam: agak ribet kalau dibanding Singapura.
- Indonesia: udah makin digital (e-faktur, e-bupot, DJP Online), tapi realitanya masih sering error server, antri konsultasi, atau interpretasi aturan yang beda-beda di lapangan.
Banyak pengusaha yang bilang, “Di Indo tuh bukan tarif yang bikin pusing, tapi ketidakpastian aturan.” Hari ini ada insentif, besok aturan revisi, lusa audit tiba-tiba nongol.
Insentif Pajak
- Indonesia: ada tax holiday, tax allowance, PPh final UMKM 0,5%, bebas pajak buat omzet UMKM < Rp500 juta.
- Singapura: tax rebate gede buat startup, bahkan bisa 0% beberapa tahun pertama.
- Malaysia: ada exemption sektor prioritas.
- Thailand & Vietnam: kasih insentif buat investasi asing di industri manufaktur & teknologi.
Indonesia sebenarnya udah lumayan progresif kasih insentif, tapi kalah cepat sama Singapura yang bener-bener gaspol narik startup & investor asing.
Relatable Story
Bayangin lo bikin startup SaaS. Di Indo, lo harus siap-siap ngurus PPN 11%, PPh Badan 22%, dan ribetnya compliance. Di Singapura, lo bisa dapet corporate tax 17% bahkan kurang karena ada insentif. Plus, investornya lebih gampang masuk karena environmentnya pro-startup. Jadi gak heran banyak founder Indo yang bikin PT di Singapura tapi tetap jualan di Indo.
Jadi, Siapa Lebih Ramah?
Kalau skornya:
- Singapura: paling ramah, tarif rendah, sistem simple, insentif banyak.
- Malaysia: tarif lumayan, pajak konsumsi rendah, tapi sistem masih standar.
- Thailand/Vietnam: mirip Indo, tapi tarif lebih rendah sedikit.
- Indonesia: tarif badan cukup tinggi, PPN lumayan mahal, sistem makin digital tapi kadang bikin frustasi.
Kesimpulannya, Indonesia belum paling ramah dibanding tetangga. Tapi pemerintah Indo lagi coba ngejar lewat digitalisasi dan insentif UMKM/startup.
Satire Penutup
Ironis banget: banyak orang Indo yang ngeluh pajak ribet, tapi negara ini justru salah satu pasar paling empuk buat Netflix, Grab, Shopee, dan raksasa global lain. Mereka doyan cuan di sini, tapi kalau gak ada reform pajak, Indo bisa jadi sekadar “ladang revenue”, bukan pusat bisnis.
Pertanyaan pedasnya: mau terus jadi market doang, atau jadi magnet investor juga? Jawabannya ada di seberapa ramah sistem pajak kita dibanding tetangga.
Mau gue bikinin tabel perbandingan pajak Indonesia vs Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam biar makin gampang kebayang side by side?
