https://stevia.or.id/ Pajak Event Olahraga Internasional (F1, MotoGP): Arena Balap, Arena Pajak
Kalau konser Coldplay bikin Jakarta panas, lain cerita dengan event olahraga internasional kayak F1 dan MotoGP. Beda dunia, tapi vibes-nya sama: hype, duit ngalir gede, dan tentu aja… pajak jadi bintang belakang layar.
Indonesia lagi ngebut ngejar branding global lewat event olahraga. Dari Mandalika yang bawa MotoGP, sampe wacana masukin F1 ke IKN atau Bintan. Semua keliatan glamor: sirkuit baru, sponsor global, turis asing numpuk, media internasional nembak kamera ke Indonesia. Tapi di balik itu semua, ada pertanyaan klasik: pajaknya gimana? Siapa yang bayar, siapa yang dapet, siapa yang keteteran?
Mandalika: Sirkuit Baru, Pajak Lama
MotoGP di Mandalika udah jadi semacam simbol nasionalisme baru. Tahun 2022, event ini sempet jadi trending global karena venue super kece tapi juga kontroversial: dari lintasan yang retak, harga hotel gila-gilaan, sampe warga lokal yang bilang mereka kurang kebagian manfaat.
Nah, di balik gegap gempita itu, ada komponen pajak lumayan ribet:
- Pajak tiket nonton (hiburan daerah).
- Pajak penghasilan pebalap asing (PPh 26).
- Pajak sponsor dan hak siar (corporate tax + PPN).
- Pajak hotel, restoran, transportasi (turunan).
Jadi sekali event, uang yang muter bukan cuma buat Dorna Sports (penyelenggara MotoGP global) atau ITDC (pengelola Mandalika), tapi juga buat pemerintah lewat berbagai layer pajak.
F1 Wacana Masuk Indo: Pajaknya Lebih Berat
Kalau MotoGP udah jalan, F1 masih tahap wacana. Tapi kalau beneran kejadian, dampaknya ke pajak bisa lebih kompleks. F1 punya struktur revenue yang jauh lebih gede daripada MotoGP. Hak siar, sponsor, sampai hospitality box buat korporasi harganya gila-gilaan.
Bayangin:
- Sponsor kayak Rolex, Petronas, DHL, bayar jutaan dolar.
- Tiket VIP bisa ratusan juta per kursi.
- Hak siar global bisa miliaran dolar.
Kalau event kayak gini masuk ke Indo, pajaknya otomatis ikut numpuk. Tapi masalahnya: apakah sistem perpajakan Indo siap? Apakah revenue sponsor global bisa dipajakin di sini, atau malah lari ke tax haven?
baca juga
- Pajak Perkawinan Mewah
- Pajak Streaming Platform
- Pajak Content Creator YouTube
- Pajak Influencer TikTok & Instagram 2025
- Pajak Event Olahraga Internasional
Pajak Hiburan Olahraga: Sama atau Beda?
Konser musik kena pajak hiburan daerah 15–25%. Nah, event olahraga internasional juga dianggap hiburan publik. Jadi tiket MotoGP atau F1 yang lo beli itu udah include pajak hiburan.
Tapi ada dilema. Event olahraga sering diposisikan sebagai sport tourism. Jadi pemerintah daerah kadang “malu-malu” narik pajak gede. Mereka mikir: kalau pajaknya terlalu tinggi, promotor bisa kabur ke negara lain. Padahal, tujuan utama event ini kan bukan sekadar jual tiket, tapi ngejual citra daerah dan narik turis asing.
Sponsor Global: Duit Besar, Pajak Susah
Faktor paling seksi di event olahraga internasional adalah sponsor. Dari energy drink sampe brand otomotif, semua rebutan pasang logo di lintasan. Duitnya gila-gilaan. Tapi, gimana cara pemerintah Indo narik pajak dari sponsor global?
Kalau sponsornya perusahaan luar negeri tanpa badan usaha tetap (BUT) di Indo, pajaknya ribet. Ada kemungkinan duit sponsor nggak bisa ditarik maksimal, karena mereka pake skema cross-border tax treaty. Hasilnya? Revenue gede, tapi pajak lokal nggak sebanding.
Hak Siar: ATM Utama F1 dan MotoGP
Buat F1 dan MotoGP, pemasukan terbesar bukan tiket, tapi hak siar televisi dan digital. Di sini ada problem gede. Karena Dorna Sports (MotoGP) dan Formula One Management (F1) adalah perusahaan asing, hak siar biasanya langsung ditarik ke luar negeri. Indonesia cuma dapet PPN impor jasa, plus mungkin withholding tax.
Artinya, meskipun event ini rame di TV nasional, duit iklan miliaran bisa langsung lari ke luar negeri. Inilah kenapa pemerintah Indo sering dianggap cuma jadi tuan rumah, bukan pemenang ekonomi utama.
Pajak Hotel & Restoran: Jackpot Buat Daerah
Kalau soal hotel dan restoran, jelas daerah panen. Waktu MotoGP di Mandalika, harga hotel naik sampai 5–10x lipat. Warung nasi lokal pun bisa jualan ke turis asing. Semua transaksi itu kena pajak hotel, pajak restoran, dan PPN.
Sayangnya, ada masalah klasik: kebocoran. Banyak warung kecil yang belum terdaftar pajak, jadi uangnya ngalir tanpa tercatat. Pemerintah daerah sering kesulitan nyapu semua revenue ini. Jadi meski turis numpuk, pajak real masuk kas daerah belum maksimal.
Perbandingan: Singapura, Malaysia, Qatar
Kalau ngomongin F1, Singapura udah jadi contoh textbook. Mereka rela keluar duit gede buat bayar hosting fee, tapi baliknya lewat pariwisata dan branding. Pajaknya jelas, sistem digital mereka udah rapih. Jadi revenue bisa dipantau real time.
Malaysia sempet jadi tuan rumah F1 di Sepang, tapi mundur karena katanya rugi. Pajaknya tinggi, tiket kurang laku, sponsor lari. Jadi mereka stop.
Qatar beda lagi. Mereka pake event olahraga kayak MotoGP, F1, bahkan Piala Dunia buat branding negara. Pajak? Kadang malah disubsidi. Buat mereka, value utamanya adalah soft power, bukan revenue pajak jangka pendek.
Indonesia ada di tengah-tengah. Mau branding, mau revenue, tapi sistem pajaknya belum sefluid Singapura.
Fans Lokal: Nonton Mahal, Pajak Diam-diam
Buat fans Indo, nonton MotoGP atau F1 langsung itu udah kayak mimpi. Tapi harga tiket sering bikin geleng kepala. Karena ada komponen pajak di dalamnya, otomatis beban balik lagi ke konsumen.
Misalnya tiket MotoGP kelas tribun Rp2 juta. Kalau tarif pajak hiburan 15%, berarti Rp300 ribu langsung ke pemerintah. Belum lagi service fee platform. Jadi kalau fans protes harga tiket mahal, salah satunya memang faktor pajak.
Risiko Double Tax: Lagi-lagi Promotor Kena
Promotor event olahraga internasional juga kena masalah klasik double tax. Pebalap asing kena PPh 26, sponsor kena PPN, tiket kena pajak hiburan. Akhirnya promotor harus jadi jembatan semua pajak itu. Kalau salah satu miss, DJP bisa nyerang.
Ini bikin promotor Indo agak jiper. Banyak dari mereka minta perlakuan khusus, misalnya tax holiday atau potongan pajak buat event global.
Masa Depan: IKN, Sport Hub, dan Pajak Digital
Rencana pemerintah bikin IKN jadi sport hub global bakal bawa implikasi pajak lebih gede. Bayangin kalau ada F1 di IKN, revenue dari tiket, sponsor, siaran, hospitality box bisa triliunan. Pertanyaannya: apa pajak bisa ditarik maksimal, atau malah bocor ke luar negeri?
Satu hal yang udah mulai dibahas di 2025 adalah integrasi e-tax system buat event olahraga. Semua tiket, sponsorship, bahkan hak siar masuk ke dashboard pajak real time. Jadi nggak ada lagi ruang buat ngumpetin angka.
Penutup: Balap Pajak Sama Cepatnya dengan Balap Mobil
F1 dan MotoGP bukan sekadar olahraga. Ini bisnis global, dengan skema pajak super kompleks. Indonesia masih belajar. Dari Mandalika kita belajar soal pajak hiburan dan hotel. Dari wacana F1 kita belajar soal sponsor dan hak siar.
Kalau pemerintah bisa bikin sistem pajak yang adil tapi nggak memberatkan, Indonesia bisa jadi tuan rumah tetap event global. Tapi kalau masih ribet dan kebocoran tinggi, jangan kaget kalau akhirnya F1 lebih milih ke Singapura, dan MotoGP mandek di Mandalika.
Jadi jangan heran, kalau nanti lo beli tiket nonton MotoGP, sebagian duit lo nggak cuma buat liat Marc Marquez ngebut, tapi juga buat ngebiayain jalan tol, rumah sakit, dan sekolah lewat pajak.
