Aturan Impor Barang Bawaan Penumpang

stevia.or.id/ Aturan Impor Barang Bawaan Penumpang: Semua yang Perlu Kamu Tahu! Oke, jadi lo baru balik dari luar negeri atau lagi mau ngimpor barang pribadi dari luar? Lo harus tahu aturan yang mengatur impor barang bawaan penumpang. Gak cuma barang besar atau barang komersial, barang-barang pribadi yang lo bawa juga ada aturannya, lho! Jadi, gimana sih cara lo bisa bawa barang ke Indonesia tanpa pusing? Yuk, simak penjelasan lengkapnya.

Apa Itu Impor Barang Bawaan Penumpang?

Nah, yang dimaksud dengan impor barang bawaan penumpang adalah barang-barang yang dibawa oleh penumpang atau pekerja migran Indonesia yang baru datang dari luar negeri. Barang-barang ini bisa berupa pakaian, elektronik, atau bahkan barang-barang yang lo beli buat diri sendiri. Yang penting, itu semua barang pribadi, bukan barang yang dibawa buat dijual lagi.

Namun, tentu ada aturan yang mengatur jenis barang dan jumlahnya. Semua itu ada di bawah regulasi Peraturan Menteri Perdagangan No. 7 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Permendag Nomor 36 Tahun 2023 tentang kebijakan dan pengaturan impor.

Selain itu, aturan soal bea masuk dan cukai untuk barang bawaan penumpang diatur lebih lanjut oleh Peraturan Menteri Keuangan No. 203 Tahun 2017 dan peraturan pelaksanaannya dalam PER-09/BC/2018.

Barang Bawaan Penumpang: Bebas Batasan?

Sesuai dengan Permendag No. 7/2024, pemerintah Indonesia memutuskan untuk membebaskan batasan untuk barang bawaan pribadi penumpang. Jadi, lo gak perlu lagi khawatir tentang jumlah barang yang lo bawa, selama itu memang barang pribadi.

Tapi, tentu ada pengecualian untuk barang-barang yang memang dilarang atau dibatasi (lartas) impor, seperti barang yang berkaitan dengan Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan hidup (K3L). Misalnya:

  • Barang bekas.
  • Limbah berbahaya atau limbah B3.
  • MMEA (minuman mengandung etil alkohol).
  • Psikotropika dan narkotika.
  • Produk babi.

Pokoknya, barang yang masuk dalam kategori K3L harus diurus oleh importir terdaftar, bukan lewat jalur barang bawaan penumpang. Jadi, kalau lo bawa barang-barang yang dilarang ini, bisa jadi masalah besar buat lo.

baca juga

Barang Bawaan yang Bebas Bea Masuk

Oke, ini bagian yang seru nih. Barang-barang pribadi yang lo bawa sebenarnya bisa bebas bea masuk, lho! Tapi ada batasannya. Berdasarkan PMK No. 203/2017, lo bisa bebas dari bea masuk jika nilai barang yang lo bawa gak lebih dari USD 500 per orang, per kedatangan.

Untuk awak sarana pengangkut (ya, para pilot, kru pesawat, atau awak kapal), batasannya jauh lebih kecil, hanya USD 50 per orang. Jadi, kalo lo bawa barang pribadi lebih dari itu, bea masuk dan pajak lain bakal dikenakan.

Pajak Impor dan Bea Masuk Kalau Nilai Barang Lo Melebihi Batas

Nah, kalo lo membawa barang dengan nilai lebih dari USD 500, berarti bea masuk dan pajak impor mulai berlaku. Setiap barang yang melebihi batas itu bakal dikenakan Bea Masuk (BM) dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI), yang terdiri dari beberapa komponen pajak seperti:

  • PPN (Pajak Pertambahan Nilai).
  • PPh (Pajak Penghasilan) Impor.
  • PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah).

Kebayang kan kalo lo bawa banyak barang atau barang mewah? Pasti bakal kena tarif pajak dan bea yang lumayan, tuh.

Contoh Perhitungan Bea Masuk dan Pajak Impor Barang Bawaan Penumpang

Jadi gini, lo baru mendarat di Indonesia dari Korea Selatan, bawa barang-barang berikut:

  • 5 K-Pop merchandise, masing-masing seharga USD 35.
  • 1 ponsel seharga USD 450.
  • 1 headset seharga USD 100.

Mari kita hitung, nih.

Langkah 1: Tentukan Kategori Barang

Barang-barang ini jelas barang pribadi, jadi lo berhak atas pembebasan bea masuk sampai USD 500.

Langkah 2: Tentukan Nilai Barang Kena Bea Masuk

Sekarang, kita tentuin nilai barang kena pajak. Total nilai FOB (Free On Board) dari barang-barang ini:

  • K-Pop merch: 5 x USD 35 = USD 175
  • Ponsel: USD 450
  • Headset: USD 100

Total: USD 725.

Jadi, nilai barang lo udah lebih dari USD 500, dan sisa USD 225 itulah yang bakal kena bea masuk dan pajak impor.

Langkah 3: Hitung Pungutan Bea Masuk dan PDRI

Berikut langkah-langkahnya untuk menghitung bea masuk dan pajak yang harus dibayar:

  • Bea Masuk: 10% dari nilai barang yang melebihi USD 500, jadi 10% x USD 225 = USD 22.5.
  • PPN: 11% dari nilai barang, jadi 11% x USD 725 = USD 79.75.
  • PPh Impor: 7.5% dari nilai barang, jadi 7.5% x USD 725 = USD 54.375.

Langkah 4: Konversi ke Rupiah

Karena nilai dalam USD, kita konversi ke Rupiah menggunakan kurs Rp16.500 per USD:

  • Bea Masuk: USD 22.5 x Rp16.500 = Rp 371.250.
  • PPN: USD 79.75 x Rp16.500 = Rp 1.317.875.
  • PPh Impor: USD 54.375 x Rp16.500 = Rp 897.188.

Jadi total bea masuk dan pajak yang harus lo bayar adalah sekitar Rp2.586.313.

Prosedur Impor Barang Bawaan Penumpang

Untuk mengeluarkan barang bawaan penumpang, lo harus melalui beberapa tahapan ini:

  1. Penyampaian Customs Declaration: Lo harus melapor barang yang lo bawa, bisa lewat formulir manual atau sistem E-CD Bea Cukai.
  2. Pemeriksaan Pabean: Petugas Bea Cukai akan memeriksa dokumen dan fisik barang lo. Kalau ada yang mencurigakan, bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
  3. Pembayaran Bea Masuk dan Pajak: Kalau lo kena pajak dan bea, lo harus bayar dulu atau kasih jaminan buat ngeluarin barang.
  4. Pengeluaran Barang: Setelah lo bayar atau kasih jaminan, barang lo baru bisa dikeluarin.

Kesimpulan

Jadi, impor barang bawaan penumpang itu gak sekompleks yang dibayangin, asal lo paham aturannya. Selama lo bawa barang pribadi dalam batas yang wajar dan gak melebihi USD 500, lo bisa bebas bea masuk. Tapi, kalo lebih dari itu, ya lo harus siap bayar bea masuk dan pajak impor sesuai aturan yang berlaku. Jadi, sebelum balik dari luar negeri, pastiin barang-barang lo masuk kategori bebas bea atau enggak, biar gak kaget pas di bandara!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top