Merger & Akuisisi

https://stevia.or.id/ Merger & Akuisisi, Risiko Pajak yang Jarang Dibicarakan. Kalau denger kata merger & akuisisi, bayangan orang langsung ke headline bombastis: “Startup A diakuisisi Unicorn B” atau “Konglomerat X merger sama Grup Y demi kuasai pasar.” Tapi jarang ada yang cerita soal dapur belakangnya: urusan pajak.

Yes, pajak dalam M&A itu ibarat hantu di balik layar—gak keliatan di press release, tapi bisa ngacauin valuasi, bikin deal batal, atau bikin perusahaan warisan utang pajak gede.

Storytelling: Kasus PT Nusantara Tech & PT Global Maju

Gue bikin simulasi biar gampang kebayang.

  • PT Nusantara Tech (startup lokal) lagi hot banget, usernya jutaan.
  • PT Global Maju (konglomerat besar) pengen akuisisi buat ekspansi digital.

Deal awal udah manis: valuasi Rp1 triliun. Investor happy, karyawan deg-degan.

Eh, pas due diligence pajak dicek, ketauan PT Nusantara Tech punya utang pajak PPN Rp50 miliar yang gak pernah dilaporin, plus ada masalah transfer pricing dari funding luar negeri.

Apa yang terjadi?

  • PT Global Maju langsung nego ulang harga, turunin valuasi.
  • Investor kecewa karena valuasi jeblok.
  • Proses akuisisi molor setahun gara-gara beresin pajak.

Lesson learned: risiko pajak bisa lebih ngeri daripada risiko bisnis operasional.

Risiko Pajak yang Sering Tersembunyi dalam M&A

  1. Utang Pajak Tersembunyi
    Banyak perusahaan lokal yang laporan pajaknya gak rapi. Pas M&A, due diligence nemuin utang lama yang baru kebuka. Ini bisa jadi beban si pembeli.
  2. PPN atas Aset yang Dialihkan
    Kalau M&A berupa jual beli aset (asset deal), sering ada kewajiban PPN yang nilainya besar. Banyak yang gak siap bayar.
  3. PPh atas Capital Gain
    Kalau pemegang saham jual saham, ada PPh Final yang harus dibayar. Kadang investor asing kena double taxation kalau gak ada tax treaty.
  4. Transfer Pricing & Pembiayaan Grup
    Perusahaan multinasional sering punya transaksi afiliasi. Kalau gak sesuai aturan Indonesia, DJP bisa koreksi, bikin beban pajak membengkak.
  5. Insentif Pajak Hilang
    Ada perusahaan yang lagi nikmatin tax holiday. Tapi kalau struktur kepemilikan berubah pas M&A, insentif itu bisa dicabut. Rugi banget.
  6. Sanksi & Denda
    Kalau DJP nemuin pelanggaran pajak setelah M&A, pembeli bisa ikut tanggung jawab.

baca juga

Pajak di M&A Kayak Mantan

Gue suka analogiin pajak di M&A kayak mantan yang “ngikut terus”. Lu kira hubungan udah kelar, tapi pas punya pasangan baru, masalah lama masih kebawa. Sama kayak utang pajak perusahaan: udah diakuisisi, tetep aja jadi tanggungan.

Fakta Lapangan di Indonesia

Di Indonesia, kasus kayak gini sering kejadian.

  • Ada perusahaan keluarga dijual ke investor asing, tapi belakangan DJP tagih pajak bertahun-tahun sebelumnya. Investor asing shock.
  • Startup diakuisisi, tapi ternyata laporan pajaknya gak sesuai omzet real. Deal jadi ribet banget.

Makanya, konsultan pajak top tier selalu masuk di setiap proses M&A. Gak bisa cuma pakai konsultan hukum atau finansial doang.

Checklist Pajak dalam Proses M&A

  1. Tax Due Diligence
    Audit pajak menyeluruh: cek laporan SPT, cek kepatuhan PPN, PPh Badan, PPh 21, 23, 26.
  2. Identifikasi Utang Pajak
    Hitung total tunggakan + bunga + denda yang bisa muncul.
  3. Struktur Transaksi
    Pilih mau share deal (jual saham) atau asset deal (jual aset). Dua-duanya beda dampak pajaknya.
  4. Cek Insentif & Fasilitas Pajak
    Apakah perusahaan lagi dapat tax holiday/allowance? Bisa dipertahankan atau hilang pas M&A?
  5. Perjanjian Perlindungan Pajak
    Dalam kontrak M&A, biasanya ada klausul kalau penjual harus tanggung risiko pajak sebelum tanggal akuisisi.
  6. Tax Planning Pasca-M&A
    Gabungan perusahaan butuh strategi baru buat efisiensi pajak.

Bandingkan dengan Negara Tetangga

  • Singapura: Proses M&A lebih smooth karena regulasi pajak jelas, due diligence transparan.
  • Malaysia: Ada insentif pajak khusus merger di sektor tertentu.
  • Indonesia: Regulasi makin maju, tapi birokrasi & ketidakpastian pajak masih bikin investor ragu.

Relatable Story: Startup Jakarta

Gue pernah denger cerita nyata dari founder startup di Jakarta. Mereka happy banget karena di-approach unicorn besar buat akuisisi. Tapi pas due diligence pajak, ketauan mereka gak pernah setor PPh 21 karyawan dengan bener. Nilainya miliaran.

Unicorn langsung kasih dua opsi:

  1. Harga akuisisi dipotong sebesar utang pajak.
  2. Deal dibatalin.

Akhirnya founder rela harga dipotong, padahal kalau dari awal pajak rapi, valuasi bisa lebih tinggi.

Tips Buat Pebisnis Lokal

  1. Jangan tunggu M&A baru beresin pajak. Dari awal bisnis, pastikan kepatuhan pajak jalan.
  2. Simpan semua dokumen pajak rapih.
  3. Kalau ada niat jual bisnis di masa depan, mulai siapin laporan pajak bersih sejak sekarang.
  4. Gunakan konsultan pajak sebelum due diligence, biar bisa clean up dulu.

Apa Kata DJP?

DJP udah sering kasih warning: dalam M&A, pembeli bisa tanggung risiko pajak penjual. Jadi jangan kaget kalau DJP tetep nagih utang pajak lama meskipun perusahaan udah ganti pemilik.

Kesimpulan

Merger & akuisisi itu bukan cuma soal valuasi, investor, atau headline di media. Ada risiko pajak besar yang sering banget gak dibicarakan, tapi bisa jadi game changer.

Kalau perusahaan lokal pengen survive di dunia M&A, kuncinya: rapiin pajak sejak awal, libatkan konsultan pajak, dan pastikan semua risiko udah diantisipasi dalam kontrak.

Karena ujung-ujungnya, deal M&A bisa gagal bukan karena produk jelek, tapi gara-gara pajak yang berantakan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top