Pajak Influencer TikTok & Instagram 2025

https://stevia.or.id/ Pajak Influencer TikTok & Instagram 2025, Dari Flexing ke Faktur

Influencer itu kayak komoditas baru. Dulu orang kaya flexing mobil sport di Senayan, sekarang cukup flexing FYP TikTok dengan endorse skincare. Satu video bisa ngerubah brand, bisa bikin produk sold out, bisa ngangkat UMKM. Tapi tahun 2026, spotlight mereka bukan cuma di ring light, tapi juga di radar pajak.

Dari Content ke Cuan: Era Uang Digital

TikTok dan Instagram bukan lagi platform hiburan, tapi mesin ekonomi. Influencer bisa dapet cuan dari brand endorsement, paid partnership, gift live streaming, sampai affiliate link. Semua digital, semua cashless, semua traceable.

DJP (Direktorat Jenderal Pajak) jelas ngeliat peluang ini. Influencer udah masuk ke kategori pekerja bebas dengan penghasilan tidak tetap. Bahasa kasarnya: meski lo bukan artis TV, kalau dapet duit dari konten, pajaknya wajib masuk.

Kasus Pajak Influencer: Dari Artis ke Content Creator

Tahun 2024–2025, udah ada beberapa kasus influencer yang jadi headline karena masalah pajak. Ada yang tiba-tiba dipanggil DJP karena penghasilannya nggak sesuai sama SPT. Ada juga yang viral karena flexing saldo miliaran tapi bilang “aku nggak ngerti pajak”.

DJP makin galak. Apalagi setelah tren Automatic Exchange of Information (AEOI) jalan, data rekening bank gampang banget dilacak. Influencer yang main duit ratusan juta per bulan tapi nggak lapor, bisa langsung ke-detect.

Jenis Penghasilan Influencer: Pajak Datangnya dari Mana?

Nah, biar jelas, mari bedah satu-satu sumber duit influencer:

  1. Endorse & Paid Partnership
    Brand bayar langsung ke influencer. Biasanya lewat kontrak. Wajib dipotong PPh 21 atau PPh 23.
  2. TikTok Creator Fund / Instagram Bonus / Ad Revenue
    Uang ini asalnya dari platform luar negeri. Secara hukum kena PPh Pasal 26, plus wajib dilaporkan di SPT tahunan.
  3. Affiliate Marketing (TikTok Shop, IG Shop)
    Komisi tiap transaksi. Kategorinya mirip income digital marketing. Harus lapor sebagai penghasilan usaha.
  4. Gift & Donasi Live Streaming
    Meskipun keliatan kayak donasi, hukum pajak tetap menganggap ini penghasilan. Jadi nggak bisa bilang “itu hadiah dari fans”.

Semua channel income itu ada jejak digital. Jadi alasan “nggak tahu” makin nggak bisa dipakai.

Tarif Pajak: Apakah Influencer Kena Berat?

Tarifnya sebenernya standar. Kalau influencer statusnya pribadi, masuk kategori PPh Orang Pribadi progresif: 5%–35% tergantung penghasilan tahunan.
Kalau udah bikin PT, bisa pilih pake PPh Badan dengan tarif 22%.

Banyak influencer yang akhirnya bikin PT biar pajaknya lebih manageable. Misalnya semua kontrak endorse ditarik ke perusahaan, bukan pribadi. Jadi ada fleksibilitas buat atur biaya dan efisiensi pajak.

baca juga

Gen Z Influencer: Antara Kreatif dan Ribet Pajak

Mayoritas influencer TikTok & Instagram itu Gen Z. Mereka lahir digital, jago bikin konten, tapi sering clueless soal pajak. Buat mereka, bikin konten 15 detik jauh lebih gampang daripada ngisi e-SPT.

Masalahnya, ignorance nggak bisa jadi alasan. Tahun 2026, DJP udah kerjasama sama platform buat narik data pembayaran. Jadi kalau influencer dapet transfer dari TikTok Inc atau Meta, otomatis ada jejak keuangan yang bisa dipantau.

DJP x Platform: Kolaborasi atau Intai-intai?

Rumornya, DJP mulai push ke platform global kayak TikTok dan Meta buat buka akses data transaksi. Kayak yang udah kejadian di Uni Eropa, di mana platform digital wajib lapor pendapatan kreator ke otoritas pajak.

Kalau ini kejadian di Indo, influencer bakal makin transparan. Semua pendapatan dari TikTok Shop, gift, atau endorsement tercatat rapi. Influencer nggak bisa lagi “ngumpetin” uang di dompet virtual.

Flexing vs Fakta Pajak

Tahun 2025–2026, banyak influencer masih suka flexing. Nunjukin saldo 1M di rekening, beli rumah cash, beli mobil mewah, pamer liburan ke Maldives. Tapi makin sering mereka flexing, makin gampang juga DJP punya bahan analisis.

Ada satu kasus viral: influencer yang sering pamer saldo, ternyata lapor SPT cuma penghasilan Rp200 juta setahun. Padahal sekali brand deal aja udah bisa Rp300 juta. Endingnya? Dicecar DJP.

Flexing sekarang sama dengan undangan terbuka buat audit.

Pajak Daerah vs Pajak Pusat

Selain pajak penghasilan, ada juga pajak daerah. Misalnya influencer bikin event offline meet & greet, jual tiket, itu bisa kena pajak hiburan. Jadi beban pajak influencer bukan cuma dari dunia digital, tapi juga kalau mereka nyemplung ke bisnis offline.

Tren Global: Influencer Tax Compliance 2026

Negara lain udah duluan bikin aturan pajak influencer.

  • Italia: bikin operasi khusus buat ngejar pajak influencer fashion.
  • Australia: influencer harus lapor semua “gifts” dari brand, termasuk barang non-tunai.
  • India: bikin TDS (Tax Deducted at Source) khusus untuk brand yang bayar influencer.

Indonesia pasti ke arah sana. Tinggal nunggu DJP bikin mekanisme pemotongan otomatis dari brand ke influencer.

Dampak Sosial: Dari Fear ke Awareness

Awalnya influencer takut pajak. Tapi lama-lama, banyak juga yang mulai jadi role model. Ada beberapa influencer finansial yang justru pake platform mereka buat edukasi soal pajak. Misalnya nunjukin cara lapor SPT, cara bikin NPWP online, sampai tips bikin PT biar pajak lebih efisien.

Ini penting, karena generasi Gen Z lebih suka belajar pajak lewat konten santai daripada seminar formal. Jadi edukasi pajak via influencer bisa jadi strategi DJP buat ningkatin kepatuhan.

Tantangan Baru: Influencer Asing di Indo

Fenomena lain di 2026 adalah influencer asing yang sering collab atau bahkan tinggal di Indonesia buat bikin konten. Pertanyaan pajaknya makin rumit: apakah mereka harus bayar pajak di Indo juga?

Aturannya jelas: kalau mereka dapet penghasilan dari Indonesia, otomatis kena pajak Indo. Tapi implementasinya ribet. Kalau nggak ada sistem cross-border tax yang jelas, banyak duit bisa lolos.

Masa Depan: Pajak Otomatis Buat Creator

Nggak menutup kemungkinan, di masa depan, sistem pajak influencer bakal otomatis. Misalnya setiap kali influencer dapet duit dari TikTok atau Instagram, langsung dipotong pajak di depan. Kayak gaji karyawan yang otomatis kena PPh 21.

Kalau ini kejadian, influencer nggak bisa lagi bilang “gue nggak ngerti pajak”. Semua langsung di-handle sistem.

Penutup: Dari Like ke Laporan Pajak

Influencer TikTok dan Instagram 2026 nggak bisa lagi cuma mikirin engagement rate. Mereka harus mikirin juga pajak rate. Fleksibilitas digital bikin peluang cuan gede, tapi juga bikin mereka gampang dilacak.

Buat Gen Z yang bercita-cita jadi content creator, lesson learned-nya jelas: jangan cuma jago bikin konten, tapi juga jago manage pajak. Karena di era digital, like bisa bikin kaya, tapi SPT bikin aman.

?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top