SPHP Pajak & PMK 15/2025: Memahami Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan & Implikasinya
Pagi itu, lo lagi duduk di café bareng temen lo, Riko, di pinggir jalan Jakarta. Riko yang baru aja selesai dengan urusan pajak perusahaan, tiba-tiba nanya, “Bro, gue lagi denger soal SPHP Pajak nih. Itu sebenernya apa sih? Kenapa harus ngerti banget tentang itu?”
Lo yang udah paham soal ini langsung jawab, “Jadi gini, bro, SPHP itu adalah Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan yang dikeluarkan sama Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Ini tuh isinya hasil pemeriksaan pajak yang dilakukan ke wajib pajak. Bisa dibilang, ini kayak ‘pemberitahuan’ kalau pajak lo kena pemeriksaan dan ada temuan yang harus lo tanggapi.”
Riko ngelirik lo, penasaran, “Jadi itu kayak warning gitu ya, biar kita tahu apa yang perlu dikoreksi?”
“Betul banget! SPHP isinya tuh temuan-temuan pemeriksaan dari fiskus, yang mana kalau lo nggak tanggap atau bales dengan benar, bisa ada sanksi administratif yang bikin masalah pajak lo makin besar,” lo lanjut sambil ngelirik layar handphone.
Pentingnya Memahami SPHP Pajak
“Berarti, SPHP Pajak ini tuh sangat penting buat kita sebagai wajib pajak ya?” tanya Riko yang mulai paham.
“Iya, betul! SPHP itu dokumen penting yang ngebantu wajib pajak buat menyikapi temuan pajak dengan tepat. Kalau lo nggak respons dengan benar, bisa aja pengenaan pajak yang nggak sesuai terus terulang,” lo ngejelasin lebih lanjut.
Riko ngelirik dokumen di mejanya, “Gue pernah denger ada perubahan aturan soal batas waktu tanggapan buat SPHP, itu gimana?”
Lo nyengir, “Jadi gini, bro, kalau dulu batas waktu buat lo tanggap itu 7 hari kerja. Tapi sekarang, di PMK 15/2025, jadi cuma 5 hari kerja setelah lo terima SPHP. Jadi lo harus lebih cepat dalam ngerespon kalau nggak mau kena sanksi,” lo jawab.
Riko kelihatan kaget, “Gila, cuma 5 hari ya? Berarti lo harus bener-bener cek semua temuan pemeriksaan biar bisa langsung jawab sesuai aturan.”
Proses Pemeriksaan dan Penyampaian SPHP Pajak
Riko yang masih penasaran nanya, “Kalau proses pemeriksaannya gimana, bro? Apa yang dilakuin sama pemeriksa pajak?”
“Jadi gini, pemeriksa pajak bakal cek pembukuan dan laporan keuangan lo. Dari situ mereka analisis apakah kewajiban pajak lo udah sesuai atau belum. Nah, hasil pemeriksaan itu yang nanti jadi dasar buat SPHP Pajak lo,” lo jelasin.
Riko mikir, “Jadi, mereka bakal lihat detail keuangan kita dan temuin koreksi pajak yang harus dibayar, kan?”
“Betul! Kalau ada kesalahan atau kekurangan bayar pajak, mereka akan kasih tahu lewat SPHP, dan lo harus bales dengan cepat untuk nghindarin sanksi,” lo lanjut dengan lebih serius.
Metode Penyampaian SPHP dan Prosedur Tanggapan
“Terus, gimana sih cara menerima SPHP itu?” tanya Riko.
Lo menjawab, “Ada dua cara, bro. Yang pertama, secara langsung, jadi lo atau wakil lo bakal terima langsung dari pemeriksa pajak. Kalau nggak bisa diserahkan langsung, biasanya faksimili yang jadi pilihan kedua.”
Riko mikir sejenak, “Jadi kalau misalnya gue nggak setuju sama hasilnya, bisa nolak SPHP, ya?”
“Iya, lo bisa ngirimkan Surat Penolakan kalau lo nggak mau terima SPHP. Tapi, kalau lo nolak, itu harus tertulis dan lo harus jelas alasan kenapa lo nolak,” lo jawab dengan hati-hati.
baca juga
- Pajak Perkawinan Mewah
- Pajak Streaming Platform
- Pajak Content Creator YouTube
- Pajak Influencer TikTok & Instagram 2025
- Pajak Event Olahraga Internasional
Kesimpulan: Tanggapan Cepat untuk Menghindari Sanksi
Riko nyimak dengan serius, “Jadi, kalau SPHP itu datang, kita harus bener-bener tanggap dalam waktu yang singkat, kan?”
“Betul! Jangan sampai tanggapan lo terlambat, karena bisa kena sanksi administratif yang justru bikin masalah pajak lo makin rumit,” lo simpulin.
Riko senyum lega, “Makasih banget, bro. Gue jadi ngerti gimana caranya nanganin SPHP dengan bener dan nggak kena masalah lagi.”
Lo tersenyum, “Sama-sama, bro! Kalau lo masih bingung soal pajak atau permasalahan pajak lainnya, lo bisa langsung konsultasi dengan konsultan pajak biar semua urusan pajak lo jadi lebih gampang.”
